Hari ini adalah hari pertamaku dan istri bermalam di Rumah Sakit sejak tervonis positif korona tanggal 17 Februari 2022 lalu saat kami melakukan test PCR. Sebelumnya saya tidak merasakan gejala apapun pagi itu sejak saat bangun tidur membuat sarapan nasi goreng dengan telor ceplok serta lalap mentimun dan kol, terasa segar asin pedas sarapan kami terasa nikmat. Sesaat setelah sarapan istri bermain sosial media bersama saya dan adik ipar saya di depan televisi. Setelah bosan akhirnya istri dan adik saya menuju kamar mungkin sambil rebahan dikamar sambil istirahat, sementara saya mencoba memecah kebosanan dengan menonton film anak-anak koleksi anak saya yang berjudul "into the wood". Selama menonton film saya merasakan pusing tidak karuan, mungkin aku belum ngopi aku pikir dengan membuat kopi dan meminumnya mungkin akan membaik, karena memang biasanya begitu agak pusing aku nyeduh kopi dan meminumnya, selang beberapa menit pusing akan hilang dengan sendirinya. Namun tidak kunjung reda sakit kepala saya waktu itu malah bertambah berat dan seperti mau pecah kepala. Saya mencoba memejamkan mata siapa tau bisa tidur, namun tidak bisa tidur juga, malah ada rasa mual dan ingin muntah rasanya.
Rasa mual dan sakit kepala ternyata juga dirasakan oleh istri saya yang ada di dalam kamar. Setelah mandi dan sholat dhuhur, saya dan istri mencoba relax dan makan siang, siapa tau setelah makan siang dan sedikit istirahat akan bisa reda segala yang kami rasakan. Namun ternyata tidak kunjung reda hingga membuat saya muntah hingga dua kali berturut-turut, kepala makin sakit, dada berdebar-debar gemetar hingga keringat dingin keluar. Tanpa pikir panjang saya langsung berkemas dan segera ingin ke Rumah Sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama di UGD, hal tersebut juga diikuti oleh istri saya, kurang lebih sama yang dialami istri saya dengan saya, namun telinga istri saya sebelah kiri mendengung sejak kemarin, ia pun langsung berkemas dan kami bersama-sama menuju Rumah Sakit.
Setibanya di Rumah Sakit, kami diterima dengan ramah oleh petugas UGD, setelah melengkapi dokumen, kami di ukur tekanan darahnya dengan menggunakan tensi meter merek omron, setelah itu suster meminta ijin ambil sample darah kami untuk di periksa sekalian memasang alat yang digunakan untuk memasukkan cairan infus di tangan, nyeri yang kami rasakan karena tertusuk jarum, kemudian kami diminta untuk test swab antigen dan swab PCR kembali, karena hasil test PCR kami sebelumnya sudah tidak berlaku sehingga RS memastikan kembali kami masih dalam keadaan positif korona, suster yang mengambil sample di hidung dan tenggorokan kami minta maaf karena akan terasa tidak nyaman, dan kami merasakannya memang sakit di tenggorokan dan hidung karena alat test tersebut.
Petugas yang menangani kami berdua bertanya kepada tim nya apakah sudah tersedia ruang perawatan buat kami berdua, ternyata sudah disiapkan katanya, sambil berjalan menuju ruang perawatan kami berdua di arahkan ke ruang radiology untuk pemeriksaan rontgen dada atau torax. Setelah pengambilan rontgen atau xray selesai, kami diberi gelang pasien yang berisi data rekam medis dan sebagainya, saya menggunakan gelang biru sementara istri saya gelang berwarna pink. Sesampainya di kamar 224 ternyata masih dipasang sprei oleh petugas dan kami duduk di bangku yang tersedia di depan pintu kamar.
Kami mencoba merebahkan diri di ranjang tersebut kemudian datanglah seorang suster berpakaian hasmat menanyakan identitas nama kami karena kami pasien yg baru datang sehingga akan disiapkan makan malam untuk kami. Selang beberapa saat kemudian makan malam kami datang dan kami memakannya. Kemudian datang kembali suster beberapa waktu kemudian, menyatakan bahwa obat akan diantar nanti malam karena resep masih dibuat oleh dokter. Kami mencoba untuk istirahat dengan kondisi ruangan yang agak kurang dingin AC nya, istri saya sampai berkeringat dan kebangun bangun tidurnya. Hingga tulisan ini di posting blm ada tanda-tanda suster memberikan obat untuk kami. Demikian sampai jumpa.