Pukul 5 pagi kami terbangun dari tidur dengan kepala sakit tak menentu. Aku putuskan untuk ketoilet dan sikat gigi dan mengambil air wudu untuk sholat subuh. Perut mulai lapar dan rasa mual pun tidak aku rasakan. Tak lama kemudian datanglah dua suster membawa obat minum untuk kami dan beberapa suntikan. Ternyata suntikan vitamin untuk istri saya sementara saya tidak dapat dosis vitamin suntikan melainkan vitamin yang diminum oral bersamaan dengan antivirus dan pereda nyeri lainnya. Terdengar suara rintihan istri saya disamping yang sedang disuntik vitamin oleh suster, ia berkata linu dan nyeri ketika cairan tersebut dimasukkan, rasa nyeri masih dirasakan istri saya hingga beberapa saat setelah selesai dilakukan penyuntikan.
Tak lama kemudian datang petugas perempuan membawa sarapan untuk kami, petugas pengantar makanan saat ini agak berbeda, tidak seperti biasanya, terkesan jutek tanpa basa - basi ia langung meletakkan makanan kami di meja, dan kebetulan saya tertidur dan mendengar petugas tersebut bertanya pada istri saya, "siapa dia?" Sambil menunjuk saya kemudian istri saya menjawab "suami saya mbak" kemudian petugas itu menjawab "kok disini? Nanti dipindahin ya saya bantu" setelah mendengar itu saya menoleh ke arah suster dan ia mengulangi penyataan nya bahwa "pasien laki-laki dan perempuan harus dipisah, kalau tidak kami yang kena pak." Padahal kami suami istri namun tetap dipindah juga karena sudah SOP dari rumah sakit ini katanya. Kemudian suster tersebut pergi meninggalkan kami.
Karena lapar melanda, yasudah saya makan saja sarapan kami yang sudah tersedia, terlihat isian soto ayam terdiri dari bihun suwiran ayam dan tauge, nasi dan kuah dibungkus plastik didalam kotak makan sekali pakai. Setelah selesai makan, kami minum antivirus vitamin dan pereda nyeri yg telah terbungkus plastik klip bertuliskan nama saya. Tak lama setelah kami makan suster tadi datang kembali dan mengambil dan mendorong ranjang saya untuk ditempatkan di ruangan yang bersamaan dengan pasien laki-laki lainnya. Sedih harus meninggalkan istri saya sendiri disana. Akhirnya istri saya mencari tau kenapa hal ini terjadi kepada pasien sebelah yang menempati ruangan saya. Ternyata karena hari ini hari senin sehingga kalau terjadi pemeriksaan karyawan rumah sakit tidak kena masalah, karena prosedurnya adalah pasien laki-laki dan perempuan tidak boleh dicampur dalam 1 kamar, kecuali satu kamar tersebut ke 4-4 pasien nya keluarga semua, oh iya kami dapat kamar 1 ruangan berisi 4 pasien, kebetulan kami masuk di hari minggu sore dan sebelumnya sudah masuk 2 pasien ibu dan anak perempuannya, di hari dan ruangan yang sama dengan kami, jadi hanya 1 laki-laki diruangan itu yaitu saya sendiri. Sempat saya protes ke suster tersebut, tapi saya suaminya bukan orang lain, namun protes saya tidak bisa karena sudah peraturan pak katanya seperti itu. Dengan berat hati akhirnya saya meninggalkan istri saya menuju ruangan sebelah yang ruang khusus laki-laki.
Setelah memasuki ruangan tersebut ternyata begitu banyak ranjang dalam satu ruangan besar sekitar 10 ranjang dan ranjang saya diketakkan dipaling ujung sebelah kiri nomer 4 dari pintu masuk. Sempit, hanya muat satu ranjang dan dipartisi dengan hordeng setiap sekatnya. Kurang nyaman pasti, tapi yasudahlah yang penting saya tetap pakai masker terus, tanpa lepas-lepas dan ganti sesering mungkin untuk menghindari re-infeksi dari pasien-pasien lain, karena 10 pasien dalam 1 ruangan takut aja gitu :(
Setelah beberapa saat rebahan di ranjang akhirnya saya dibangunkan istri saya yang nampak segar, sepertinya abis mandi, ia datang membawa shampoo, susu steril bear brand, snack gandum dan goodie bag untuk tempat baju bekas pakai, akhirnya saya bergegas untuk mandi, cukup bersih kamar mandinya dan showernya kenceng airnya namun sayang water heaternya tidak berfungsi, meskipun sudah saya putar keran menuju arah hot namun tidak panas juga, yasudah gpp lah yang penting mandi bersih segar ;) setelah mandi segar saya meminum herbal PH7 diakhiri dengan makan 3 butir kurma, bertepatan dengan itu datanglah suster membawa snack puding coklat untuk saya, langsung saya makan dan istirahat kembali.
Tak lama berselang sambil scrol instagram, terdengar suster mengantarkan makan siang untuk saya, kali ini beda ada stiker bertuliskan nama dan nomer rekam medis saya, mungkin lebih enak makanannya aku pikir dalam hati, dan ternyata masih sama saja, hahaha, berisikan nasi telur rebus belum dikupas cangkangnya, sayur sop wortel makaroni dan buncis dalam plastik, tahu potong dadu bumbu cokelat dan ikan apa jenisya berbumbu sama dengan tahu, serta sepotong buah semangka, makanan belum selesai saya makan, eh ada suster lagi membawakan obat minum dan vitamin suntik buat saya, susternya tau kalau saya sedang makan " pak roni, sedang makan ya? Silahkan dilanjutkan pak saya ke pasien lain dulu" sambil menunggu saya selesai makan, suster tersebut memberikan suntikan vitamin kepada pasien yang kamarnya tepat didepan saya, setelah selesai makan, suster tersebut menghampiriku, memberi obat dan memberikan suntikan vitamin juga. Dan saya kembali beristirahat, karena kepala saya mulai sakit lagi. Saya mengambil air wudu untuk sholat duhur terlebih dahulu sebelum mencoba untuk tidur setelah saya olesin dengan minyak kayu putih leher dan pelipisbsaya, Dan akhirnya pelan-pelan saya mulai tidur siang.
Belum sampai terlelap istri saya telpon bahwa ada kiriman dari teman saya," iya itu jus dari mbak okky" kumenjawab telpon istriku, karena memang tertulis di paket kiriman untuk roni dan febri, yang sebelumnya sudah ku informasikan ke mbak okky kalau kami satu kamar, karena insiden tadi pagi sehingga kiriman masih ke kamar sebelumnya, namun tidak masalah toh sampai juga ke orang yang tepat kan, tak lama kemudian istriku datang dan mengantarkan kekamarku aku ambil satu dan satunya untuk dia. Kulanjutkan kembali tidurku yang sudah mulai terlelap sebelum ku menerima telepon.
Tidur saya terganggu kembali dengan suara ketok-ketok pintu seraya minta tolong, samar-samar ku dengar entah ini nyata atau tidak, mungkinkah siang-siang begini ada hantu, kuberanikan diri untuk melihat apa yg terjadi di lorong, benar saja ada yang terlunci di dalam kamar mandi, seorang bapak bapak tua yang kesusahan berjalan minta tolong dibukain pintu yang terkunci dari dalam, saya kasih instruksi ke bapak tua tersebut "putar tuasnya kekanan dua kali pak" aku meneriaki dia dari luar hingga terdengar oleh pasien lain seorang pemuda "iya mas, bapak ini sudah pernah terkunci dari dalam semalam jam 2 pagi, kasihan" kemudian kami kasih instruksi kembali bapak yg ada didalam untuk membuka pintu kamar mandi dari dalam, saya memanggil suater di nurse room, mereka bilang tunggu sebentar pak, saya melihat suster sedang memakai kembali baju hasmatnya, kemudian saya kembali ke ruang perawatan, terlihat pemuda tersebut dengan susah payah sambil memegang gagang pintunya " ya pak sedikit lagi! Putar tuasnya ke atas" dan alhamdulillah akhirnya bisa terbuka juga, kemudian pemuda itu dan aku menuntun bapak tua kembali ke ranjangnya.
Waktu berjalan begitu cepat, jam sudah meunjukkan jam 3 sore, karena tidur gagal terus akhirnya saya mengunjungi istri saya dikamar sebelah, sambil bercerita dan makan snack serta membeli makanan online dari luar, tak terasa waktu ashar sudah tiba dan saya mengambil air wudu untuk solat ashar, kemudian setelah itu saya ke nurse room untuk menanyakan apakah ranjang saya bisa dipindah paling depan dekat pintu, dengan harapan supaya bisa dekat dengan istri, sementara ditempat sebelumnya terlalu penuh kanan kiri ada pasien lain, sementara di depan tidak terganggu dengan pasien lain, karena pasien sebelumnya sudah pulang, "ya gpp pak, bapak mau pindah kesebelah mana?" Bruder menanyakan ke saya, "situ mas sebelah pintu depan" kemudian bruder itu menyambut"yaudah saya bantu dorong ya" setelah selesai menata ranjang saya, saya ucapkan terimakasih kepada bruder yang telah membantu saya, dan saya mendapatkan telepon dari istri, mengabarkan kalau makanan yang kita pesan sudah sampai, saya bergegas kembali ke kamar istri untuk makan pesanan sambil bercerita. Tak berselang kami makan ayam gulai dari MCD, bruder yang membantu saya mendorong ranjang tadi menghampiri istri saya untuk cek suhu tubuh, tekanan darah, dan saturasi oksigen, kemudian saya bertanya kepada bruder tersebut," saya di cek disini saja gpp kan mas?" Kemudian bruder menjawab "boleh saja pak, bapak kamarnya mana?" Waduh kupikir bruder ini mudah lupa atau banyak pikiran "saya yang mas bantu dorong ranjang untuk pindah ruang tadi mas 324" oh iya boleh pak dia bilang. Sambil ngobrol panjang kami sama bruder tersebut karena orangnya asik sekaligus menghibur kami, yang hingga saat ini kami belum tau nama bruder tersebut :) tak lama berselang kawan istri saya menelepon, saya mencoba kepo apa yang mereka bicarakan, namun ternyata perbincangan terlalu perempuan, akhirnya saya kembali ke ruangan saya sambil menunggu magrib tiba.
Sambil ngetik blog ini saya mendengar suster memanggil nama saya "tuan Roni" saya menjawab "iya saya sus" suster memasuki ruangan saya dan membawa sebuah plastik klip berisikan 3 butir pil antivirus, pil buat sakit kepala, dan pil buat flu, serta membawa 2 suntikan kemudian kebertanya "suntikan apa lagi sus? Tadi pagi sudah vitamin, sekarang apa?" Suater menjawab "antibiotik pak" baik, pasti ini akan terasa nyeri, aku minta suster berhenti memompa jarum suntik ketika terasa sangat nyeeri dan sakit, ketika sudah tidak terasa aku minta dorong lagi dan seterusnya hingga habis. Akhirnya, huhf ku ucapkan terimakasih pada suater tersebut dan akhirnya dia menghilang dari pandangan mata. Selang beberapa lama istri saya menghampiri saya membawakan burger yang belum sempat termakan seraya berucap "kamarnya jadi tidak dingin karena ada ibu hamil, dikecilin AC nya karena gak bisa dingin, malah dingin disini" dia berucap aku bilang sabar. " loh? Makanan nya blm dimakan? " tanya ia, kemudian saya menggeser meja dan menaruh makanan diatas meja dan memakannya sambil ditungguin istri seraya berbincang.
Demikian pembaca pengalaman hari ini, agak complicated tapi seru dan panjang ceritanya. Mohon maaf jika kepanjangan, atau menyinggung pihak - pihak tertentu, sekali lagi saya minta maaf, tidak ada motif lain selain hanya bercerita saja. Terimakasih telah membaca. Sampai jumpa. Salam sehat untuk semua.