Kondisi kami di hari kedua ini belum banyak berubah. Pagi pagi kami bangun dari ranjang rumah sakit yang bersebelahan, masih kami rasakan sakit kepala namun tidak seperti tadi malam. Terdengar suara suster memanggil nama kami, suster tersebut mengecek suhu, tekanan darah, serta saturasi oksigen kami. Setelah beberapa saat petugas catering membawakan sarapan untuk kami. Terlihat bubur ayam dengan kuah kuning, dibungkus dengan tempat makan berbahan plastik sekali pakai, berwarna hitam dibawahnya dan ditutup plastik transparan diatasnya. Setelah mandi saya memakan bubur tersebut, ya agak hambar sih, layaknya makanan rumah sakit, meskipun agak mual namun saya paksakan untuk sarapan. Terdengar petugas memanggil kami dan memberikan dua buah tumbler berisi air mineral. Dan ternyata air minum disini self service, kami disediakan galon dispenser masing-masing kamar isolasi untuk mengisi air secukupnya, dan merek galon yang tersedia adalah oasis.
Istri saya menelfon ibu untuk dibawakan vitamin C dan D merek NOW yang biasa kami minum, saya berfikiran bahwa nanti di RS akan dikasih semua, namun hingga kami selesai sarapan pun belum ada tanda-tanda suster memberikan kami obat, sehingga kami meminta dibawakan vitamin tersebut untuk kami minum. Disamping itu saya mendapat kiriman sesuatu dari teman kalau dia dan keluarga pernah kena korona dan minum herbal tersebut hingga pulih dan negatif. Nama herbal itu adalah PH7 Herbal, apakah para pembaca pernah mendengarnya? Aku baru tau setelah dikirim teman saya. Kami meminumnya sekitar pukul 10 pagi jeda sekitar 2 jam dari kami sarapan dan minum vitamin C dan D. Rasanya seperti Qusthul Hindi, apakah pembaca pernah mendengarnya, ya seperti itu kira-kira rasanya, tidak bisa digambarkan, pokoknya tidak enak kata istri saya, namun bagaimanapun juga kami berusaha untuk sembuh dan berdo'a.
Kami mencoba untuk istirahat sejenak, namun rasa sakit kepala mulai meningkat semakin parah di jam tersebut, seperti hari sebelumnya ketika kami dirumah. Terdengar suara petugas catering kembali memberikan menu makan siang, terlihat sama seperti sebelumnya nampaknya, namun saya memutuskan untuk solat dhuhur dulu sebelum memakannya. Istri saya meminta saya makan bersama, dan tercium aroma yang membuat saya agak mual, kemudian saya tanya istri saya "apakah menunya seafood?" Istri ragu mau menjawab, kemudian ia mencoba membuka menu makan siangnya dan ia mengiyakan kalau aroma amis tercium, ternyata menu nya adalah ikan dibumbu kuning kurang jelas, entah ikan apa yg dimasak, karena kami berdua tidak bisa membedakan ikan apa aja yang kita makan, hahaha. Menu pendampingnya adalah telur rebus yg masih blm dibuka cangkangnya, sayur wortel dan labu, orek tempe serta nasi dan sepotong buah melon.
Setelah makan siang, masuk kembali suster berbaju hasmat dengan membawa obat dan suntikan, dia menanyakan nama kami dan memberikan plastik klip bertuliskan nama kami yang berisi obat untuk di minum. Ternyata obat tersebut adalah antivirus, kami harus meminum obat itu 8 tablet sekali minum, didampingi obat penghilang sakit kepala, obat flu, dan obat batuk, kata susternya, jika tidak batuk atau tidak flu tidak usah diminum tidak apa-apa, kemudian suster tersebut minta ijin kepada kami bahwa akan menyuntikkan vitamin melalui lubang infus yang sudah nempel pada punggung jari kami. Agak kurang nyaman katanya bila nyeri bilang dan bapak tarik nafas hembuskan kembali. Terasa ada yang masuk melalui punggung jari saya dingin-dingin nyeri gitu rasanya di tangan.
Kami tidur siang degan nyenyak hingga sekitar pukul 3 sore. Ada kawan istri saya mengirimkan makanan berupa martabak manis dan asin dititipkan ke sekurity RS, dan diantarkan kekamar oleh suster berpakaian hasmat. Namun kami akan memakan yang martabak asin saja, jujur kami kurang begitu suka dengan yang manis-manis karena kami sudah manis ;) sayang bila tidak termakan nanti, makanya kami memberikan untuk teman-teman suster. Kami minum kembali PH7 Herbal yang kedua kalinya, dan yang ketiga nanti akan kami minum setelah makan malam. Kemudian kami mengambil air wudhu untuk menunaikan solat Ashar diatas ranjang rumah sakit.
Bersosial media lah kami hingga ada suara memanggil nama kami, iya betul petugas catering memberikan menu makan malam untuk kami, kali ini menu makannya daging bumbu coklat telur dadar yang dicetak bulat, sayur bayam dan jagung, nasi serta sepotong buah semangka. Kami tidak mandi sore karena memang tidak terlalu bau ketek kami, mungkin akan mandi besok pagi lagi hahaha.
Tak terasa udah menjelang magrib saja sekitar jam 6 sore kami kembali makan malam bersama. Rasa sakit yang kami rasakan berangsur-angsur membaik tingkat sakit kepala yang kami derita tidak separah sebelumnya. Sekitar pukul 8 malam kembali suster berpakaian hasmat menghampiri kami untuk memberikan obat untuk di minum, dan lebih deg degan lagi suster ini membawa suntikan kembali, hati kami tidak karuan, benar saja kami di test alergi antibiotik pada lengan kami, suster tersebut meberikan sedikit atibiotik dibawah kulit kami dengan menggunakan suntikan dan rasanya sakit sekali ketika ditusuk. Suster tersebut menandai pakai lingkaran pulpen di kulit saya dan istri, suster tersebut meninggalkan kami, 15 menit suster akan menghampiri kami kembali untuk cek alergi, jika alergi, suntikan tidak dapat diberikan, dan antibiotik akan diganti. Saya tidak mengalami alergi jadi lanjut tahap penyuntikan antibiotik kedalam tubuh saya melalui selang infus yang sudah tersedia di punggung tangan saya. Sementara istri saya tidak dapat diberikan karena mengalami alergi bentol di tempat dimana disuntikkan tadi dan sekitarnya merah, sehingga istri saya tidak diberikan suntikan antibiotik, kata susternya akan diberikan antibiotik jenis lain. Hingga saat postingan ini di post istri saya blm mendapat suntikan antibiotik pengganti, entah mungkin besok pagi. Sekian tulisan saya, terimakasih telah membaca. Sampai jumpa esok hari yang lebih sehat.